Oleh
Aku masih ingat bagaimana pertama kali aku menginap di rumah Rina, sahabat masa kecilku. Itu terjadi pada akhir pekan ketika Rina harus pergi ke luar kota untuk urusan kerja, dan ibunya—Bu Yuni—menawarkan agar aku tinggal semalam. Aku menolak dulu, merasa canggung, namun Bu Yuni memaksa dengan senyum yang lembut, “Kalau begitu, mari saja. Kamu kan sudah lama menjadi bagian keluarga kami.” Oleh Aku masih ingat bagaimana pertama kali aku
Saat pijatan beralih ke punggung, Bu Yuni menurunkan suaranya menjadi desahan lembut. “Aku ingin kamu merasa aman, seperti anakku sendiri,” katanya, dan aku merasakan getaran halus di antara kami. Rasa kebersamaan itu memicu sesuatu yang lebih dalam, sebuah rasa ketertarikan yang tak terduga namun begitu alami. Kamu kan sudah lama menjadi bagian keluarga kami
Setibanya di rumah itu, bau harum kue pandan yang baru saja keluar dari oven langsung menyambutku. Bu Yuni menyiapkan kamar tamu dengan sprei berwarna pastel dan selimut lembut, lalu menjemputku ke ruang tamu. “Masuk dulu, sayang. Aku buatkan teh hangat dulu,” katanya sambil menyodorkan cangkir berisi cairan amber yang menguap hangat. Aku duduk di sofa, menatap wajahnya yang berseri-seri; matanya memancarkan kehangatan seorang ibu yang sedang merawat anaknya. Setibanya di rumah itu, bau harum kue pandan